eVen Just one DaY
Sebuah cerita pendek untuk teman lama
oleh : aRiRa
Aku tak pernah tahu kalau kalimat seseorang bisa menjadi mantra yang sanggup membuatku menjadi orang paling beruntung, paling bahagia, dan di saat yang lain, paling bodoh sedunia. Aku tak tahu kalimat sederhana mampu menyesakkanku saat mengingatnya, membuatku hampir menangis di tengah tawa yang juga terbahak. Aku bingung, sekaligus sudah paham jawaban kebingunganku. Tapi itulah, aku orang paling bodoh sedunia, masih mencari dan menunggu sebuah jawaban, sekedar kata iya, untuk semua dugaan burukku.
Sebuah kalimat, “ could I get your second chance, even just one day?”, yang menyihirku menjadi pemimpi yang tinggal di masa lalu.
***
Ryo Madaya, cowok masa laluku. Pacar pertama, kalau bisa disebut pacaran. Cinta monyet, kalau saat itu beneran ada monyet yang jatuh cinta. Sejuta kebodohan yang menyisakan pertanyaan ‘what if..’, penyesalan dan penasaran, kalau saja perasaan itu tumbuh saat ini. Tapi kalau dipikir lagi, saat ini, apa mungkin seorang Ryo akan jatuh cinta pada monyet yang ini? Eh, maksudku, padaku, Bella Laila. Ryo Madaya, dulu atau sekarang, adalah Tuan Populer yang punya fans club sendiri, yang aku jamin, kalau saja aku sahabatnya, aku akan membuatkan PO BOX pribadi untuk semua surat, pujian dan hadiah untuknya, bahkan yang cuma berupa salam. Mungkin juga menarik uang pendaftaran. Sedangkan aku, Bella Laila, adalah gadis biasa yang .. (oke, bahkan gue nggak bisa mikirin kata apapun selain ‘biasa’),,BIASA. Iya, biasa-biasa aja. Ada, nggak ada yang peduli, ilang juga nggak ngaruh apa-apa. Bella atau belle artinya cantik, Laila adalah malam. Si cantik di malam hari, harusnya aku peduli arti sebuah nama, mungkin akan segera mendapat pangeran pujaan impianku. Harusnya aku cari pacar malam-malam saja, saat malam aku pasti terlihat paling cantik. Hahaha, kalau sekitarku terang benderang mungkin arti namaku tidak punya efek apapun, dan Shakespeare, akan tiba-tiba muncul meledekku, “ apalah arti sebuah nama.” Iya, apa artinya?? Pokoknya, Bella Laila adalah cewek biasa! Dan selalu, kalau ingat zaman SMP dulu, aku akan takjub mengingat seorang Ryo mau saja menalikan tali sepatuku, karena sepertinya aku lemah soal ikat-mengikat; Setia menunggu pulang latihan paduan suara, dan bahkan merelakan sepeda biru kesayangannya melewati jalan pintas yang nggak wajar buat manusia biasa. Hehehe. Apa mungkin Ryo suka aku karena kita sering ketemu malam-malam untuk mengaji di guru yang sama?? Bisa jadi. Hmm…
Oke, fokus. Jadi Ryo, mantan pacar nggak jelasku –sebut aja gitu—yang menghilang dari hidupku selama bertahun-tahun. Nggak ada kabar. Nggak tahu masih hidup atau nggak. Tiba-tiba, karena sebuah kecanggihan teknologi bernama Friendster, aku menemukannya! Actually, he found me. Sebuah pesan singkat yang jadi berlanjut dengan bertukar no HP (as you guess), testimonials dan yahoo mesangger. Thank to technology anyway. Percakapan panjang untuk meluruskan segalanya. Aku lega. That’s it. Walapun pikiran ‘what if..’ ini jadi lebih sering muncul, aku tidak pernah benar-benar bermaksud untuk jatuh cinta padanya. Well, I know how misery to be a girlfriend for popular type likes him. Nope, I won’t add anything I would regrets in my SMP space. Cukup sekali.
Dan saat sebuah janji untuk bertemu (lagi) nanti saat aku liburan, pulang kampung dan bertemu dengannya. Aku tidak berharap apapun. Ini yang ada dalam pikiranku : jalan-jalan-ngobrol sambil minum kopi atau jus-photo box-pulang. Sesederhana itu. Aku cuma ingin bertemu Ryo, as my old friend. Dan saat aku pulang, memburning file comic favoritnya dalam 6 CD jauh-jauh hari untuk kado ulang tahun, mengirim sms di kereta dan di rumah, apa yang kudapat? Nol. NIhil. Kosong. Tidak ada balasan. Tidak ada kabar. Bahkan hingga dua bulan setelahnya. Kado ulang tahun itu tak pernah tersampaikan. Rencana sederhanaku tak pernah terwujud. Dan tidak ada lagi sms, online di YM atau messagge ‘apa kabar’ di FS. Dia hilang lagi seperti tak pernah ada. Aku jadi ingat sms yang pernah dikirimnya, “ Kalau ilang-ilang kan bikin cewe penasaran..” bukan aku yang jelas, Ryo,.. karena aku merasa ada yang salah. Karena aku merasa aku bersalah. Dan sejuta kali aku mengirim kata maaf. Sejuta kali juga aku menelan ludah pahit. Tidak pernah terjawab lagi.
Aku telah mencapai titik dimana semua dugaan terburukku memenuhi kepala. Jangan-jangan dia menyangka aku jatuh cinta padanya? Jangan-jangan dia menyangka aku berharap lebih dari sekedar pertemanan? Jangan-jangan aku membuat dia marah tanpa sadar? Jangan-jangan… Fiuh! Terlalu banyak jangan-jangan. Dan entah bagaimana, aku menemukan potongan percakapan kami di sebuah file, dan aku merasa sakit sekaligus geli. Sekarang ‘what if..’ itu menghantuiku lagi, kali ini tentang seharusnya tidak ada percakapan lanjutan tentang pertemuaan saat liburan. Seharusnya kita cukup puas dengan perasaan lega telah menyelesaikan segala yang tak pernah tuntas. Fiuh! Atau seharusnya aku sudah menghentikan pikiran ‘what if’-ku sejak dulu, karena toh kenangan bukan untuk diulang. Hanya untuk dikenang.
* * *
“Ryo : tapi kadang aku suka takut klo bilang sesuatu yang bikin cewe terbang. Takut dia malah salah ngartiinnya, kadang mereka (cewe maksudnya) suka salah ngartiin perhatian yang aku kasih. Mereka kayak dapet duren jatoh klo aku perhatiin. Hehehe, padahal aku gak ada makud apa2 ngelakuinnya tapi mereka kayak dapet harapan.”
Dan saat ini aku ingin menjawab seperti ini, “ Bukan aku, Yo. Dan jangan mengenarilisasi sedangkal itu. Setidaknya kalau iya, kamu harus bertanya, harapan apa yang muncul di benak mereka—atau aku? Jadi pacar kamu atau sesedehana aku, jadi teman baikmu lagi? Tanpa perasaan berlebihan. “
Bella_Laila: maybe, l'll miss you..
Ryo: ill miss u 2..
Dan iya, Ryo, aku kangen kamu. Bagaimanapun, kamu temanku. Walau mungkin, kamu sudah lupa punya teman bernama Bella Laila. Aku kan gampang dilupakan.
***
Cuma tersisa pertanyaan “Kenapa? Apa yang terjadi?” dan mungkin tak akan pernah terjawab. Cuma Ryo yang tahu jawabannya. Dan aku sudah bosan mengejarnya, meminta maaf untuk kesalahan yang tak pernah aku tahu apa. Lucu, sebuah kebodohan lain dalam hidupku yang harus ku tertawakan. Aku tahu, tidak ada yang terluka benar-benar disini. Rasanya sama seperti balon yang kau tiup susah payah akhirnya pecah tertusuk kukumu sendiri. Kaget, sedih, tapi juga lega dan lucu.
***
Aku menekan sebuah nomor dari ponselku. Nomor Ryo. Sms terakhir yang akan aku kirim (atau tidak?!)
To : 081806363****
Could I get your second chance? Even just one day?
To be your berry best friend..
Send. Oops, nope. Delete.
Cukup soal second chance. I’ve move. Semua orang punya alasan untuk melakuakn sesuatu. Dan Ryo, juga mungkin punya sejuta alasan untuk menjauh.
Oke. Aku sudah berhenti dengan pikiran ‘what if..’ –ku.
Tidak ada yang perlu diulang.
Kenangan itu indah karena dikenang.
Bukan diulang.
Sampai ketemu lagi, Ryo. Kapan-kapan.

Recent Comments